Rabu, 22 Juni 2016

D-17Ramadhan : Kali Kedua

Ini sudah kali kedua. 


Orang pertama adalah Mahendra, dan sekarang adalah Ramadhan- salah satu teman perjalanan yang keren. 

Whats appku berbunyi nada chat  pribadi. Tertulis nama Ramadhan Kaffah. Awalnya kupikir hanya whats app yang mengajak untuk makan bakwan bareng di rumah salah seorang teman -yang sebelumnya telah mengajak kami. Kusapu layar handphoneku, kubaca sekilas. "wah ..ada bakat nulis ente bu, mantep #google+", aku langsung membukanya. 

Aih, google  nyampah di email orang lagi. Aku menyumpahi google yang menyebarluaskan tulisanku "seenaknya". Sebelumnya, Mahendra pun menerima email yang berisi semua tulisan terbaruku. Aku sampai harus mati-matian membela diri bahwa itu tidak mungkin terjadi. Sampai otakku memaksaku mengingat kejadian dimana beberapa tulisan temanku pun ikut masuk ke emailku tanpa sebab apapun. 

Hoel. 
Sekarang aku cukup malu rasanya. Tulisan yang masih tidak ada bagus-bagusnya atau sebut saja abal-abalan disebarkan "seenaknya" sama google. Actually ini bagus, bisa naikin traffic blog. Tapi, yaa tetep aja malu om google...! Hahahahahaha


Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com


Selasa, 21 Juni 2016

D-13Ramadhan : Satu nama yang kurindukan

Halo, Iam. 

Apa kabarmu, ayamku? 
Hmm, masih bolehkah kau kupanggil begitu? Rasa-rasanya sudah tak kau ijinkan aku lagi, memanggilmu dengan nama itu. 

Hey.. 
Aku baru saja dapat kabar kalau kau sudah menyelesaikan hobimu. Aku bahagia karenanya. Meski aku tahu, tidak ada lagi hak untukku untuk berbahagia. 

Iam... 
Beberapa waktu yang lalu aku selintas melihat mobilmu. Sudah lama sekali aku tak berdiri disampingnya sambil tersenyum menatapmu. Sudah lama sekali aku tak menghuni jok disampingmu. Dan sudah lama sekali kita tak minum sekaleng nescafe latte sambil menikmati macetnya Makassar. 

Iam. 
Aku masih menyukai kopi seperti dulu, dan itu karenamu. Pernah aku belajar berhenti mengonsumsinya, tapi aku kalah. Aku kalah telak. Sampai sekarang pun aku masih mengonsumsinya, pun dengan tetap merasa kau ada di dekatku menikmati kopi bersama. 

Iam. 
Aku masih saja sering rindu. Rindu denganmu yang selalu saja ada dan  apa adanya. Selalu saja mencari sosokmu yang mungkin saja ada, hanya dalam wujud yang lain. 

Iam, 
Hari ini aku rindu. Aku membiarkannya. Karena tak seorang pun mampu menahan yang namanya rindu. 


Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com

Senin, 20 Juni 2016

D-15Ramadhan : Makan siang.

Ini kali pertama aku makan siang. Setelah beberapa hari kemarin diwajibkan untuk tidak makan (sejak fajar menyingsing hingga fajar terbenam). Sebagai perempuan, tentu saja ada alasan “khusus” sehingga hari ini aku diperbolehkan makan siang. Bersama Bos – yang berbeda keyakinan- juga seorang teman yang juga memiliki alasan khusus sepertiku, kamipun makan siang di salah satu warung ayam penyet. Sebenarnya tak ada rasa lapar yang kurasakan. Malah, aku sendiri masih merasa kenyang karena sudah meminum sekotak kecil susu berwarna pink alias rasa stroberi. Asik bercerita, makanan kamipun datang. Aku yang memesan sambel goring ati dan ampela sedikit kaget ketika melihat porsi makanan yang datang. Banyak sekali, gumamku. Mulailah kami makan, dan sungguh rasanya begitu aneh sekali. Setelah 13 hari berpuasa, ini hari pertama aku makan siang dan rasanya sungguh aneh sekali. Perutku merasa sangat kenyang dan mulutku seakan malas mengunyah makanan. Setelah memaksakan diri menghabiskan makanan yang ada, akhirnya aku pun berhasil dengan kondisi yang sangat kenyang. Berbeda sekali saat makan siang di  hari biasanya sebelum puasa kemarin. Seandai memungkinkan, aku akan memilih tetap berpuasa saja, karena perutku tanpa aku sadari sudah sangat terbiasa.




Mungkin inilah yang menjadikan seorang muslim special.

Sabtu, 18 Juni 2016

D-12Ramadhan : Yang bodoh, yang mencintai.

Amma, terima kasih untuk ceritamu yang menemani perjalanan pulangku. Lama sekali kita tak bertukar cerita. Ceritaku masih saja tentangnya. Pun ceritamu juga masih tentangnya. 

Ams, maaf untuk kata "bodoh" itu. Tapi seperti yang kukatakan dalam kolom chat kita, hanya orang bodoh yang mampu mencintai sebegitu dalamnya. Sebenarnya kita tak boleh menjudge hal itu dengan kata bodoh. Toh, perihal mencintai memang begitu rumit untuk dipahami. Sedalam apapun ilmu yang kamu miliki, kau tetap terlihat bodoh jika sudah berurusan dengan cinta, -dan akupun begitu-. Karenanya, tetaplah menjadi bodoh. Mencintai bukan hal yang perlu penafsiran. Ia hanya perlu dirasakan. Hanya perlu dibiarkan. Sampai akhirnya, Ia sendiripula yang akan memilih apa yang patut Ia pilih. 



Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com

D-11Ramadhan : Buka bersama

Kantorku ramai hari ini. Acara buka puasa bersama anak yatim dan muallaf meramaikan kantorku. 

Aku baru saja sampai ketika jamku menunjukkan pukul 17.05 Wita. Terlambat lima menit. Ups. Aku melangkah masuk. Aku menegur Mama-panggilan teman sekantorku yang sudah sangat senior-. Ia tersenyum. Wajahnya mengisyaratkan lelah menyiapkan segalanya. Acarapun dimulai. Meriah dan hikmat. Pembagian beberapa bantuan sekolah juga bantuan komputer memeriahkan acara. Aku tersenyum simpul. Bahagia sekali rasanya. Tak ada yang lebih membahagiakan melihat senyuman para kaum mustahik menerima bantuan. 


Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya - Rasulullah SAW






Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com

D-10Ramadhan : Parepare

Ramai sekali, malam hari. 
Begitulah kota Parepare saat musim Ramadhan. Disana sini hanya lelaki bersarung dan peci juga perempuan bermukena yang bertebaran. Aku menyukai pemandangan itu. Alunan merdu tilawah al-quran mengalun disetiap sudut-sudut masjid. Meriah sekali. Ini kali kedua aku ber-Ramadhan di kota Parepare. Meriah. Special. Syahdu. 
Kota Parepare mampu menciptakan suasana yang berbeda. Mengisyaratkan keistimewaan Ramadhan yang sesungguhnya. Sekali lagi, aku suka melihatnya. 


Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com

D-9Ramadhan : Tuhan

Tuhanku. 
Sejauh mana aku meletakkanmu dihatiku? Sudah mampukah aku mencintaimu dengan sebaik-baiknya hidupku? 
Tuhanku. 
4 hari sudah aku meminta petunjukmu. Tapi, aku belum sepenuhnya yakin atas mimpi-mimpiku. Rasanya aku tak ingin memercayainya. Bukan, bukan karena aku tak yakin padamu. Aku hanya khawatir mimpi itu dari syetan adanya. 

Tuhanku. 
2 hari ini aku selalu tak menjumpai sahur di Ramadhan-Mu dengan sebaik-baiknya. Tidurku begitu mengikatku. Membuatku lalai pada berkah yang Kau selipkan. Kumohon, jangan Kau cabut ia dariku. Tolong. 

Tuhanku. 
Seminggu ini, aku tak menjumpai kalamMu. Aku munafik sekali, Tuhan. Menganggap diriku baik-baik saja, padahal aku begitu merindukan Engkau untuk menenangkanku. Kumohon, jangan Kau cabut ia dariku. Tolong. 

Tuhanku. 
Seminggu ini, aku tak pernah mampu mendirikan solat malamku. Tidurku memelukku erat sekali. Meski aku terbangun dan sadar, aku tetap saja tak mampu mendirikannya. Pemalas sekali aku ini, Tuhan. Olehnya, kumohon jangan pernah mencabutnya dariku. Jangan.! Jangan pernah kau lakukan itu! Kumohon jangan. Tunggulah aku, Tuhan. Dan kumohon buatlah aku kuat menggali kemanapun hidayahmu berada. 


Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com

Senin, 13 Juni 2016

D-7Ramadhan : Petunjuk

"Bagaimana jika setelah solat Allah memberikanmu petunjuk untuk melepasnya?" Tanya hatiku padaku ketika aku memutuskan untuk melaksanakan solat istikharah. "Aku akan melepasnya, jawabku." Seketika hatiku perih. Sakit sekali. Perasaan macam apa ini? Aku bahkan belum memutuskan apapun, tapi sakitnya sudah terasa. "Kau yakin?" Tanyanya sekali lagi. "Apapun petunjuk Tuhanku, akan aku laksanakan. Aku tau aku pasti bisa dan itu pasti yang terbaik dari Tuhanku" kataku dengan mata sedikit berair. Aku mulai takut pada apa yang kulakukan. Tapi aku tetap saja melakukannya. Tuhan pasti hanya memberikan yang terbaik. 


Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com

Sabtu, 11 Juni 2016

D-5Ramdhan : Hari Libur

Suara merdu TOP Bigbang mengalun indah. Disambut suara merdu Taeyang Bigbang. Aku menikmatinya dalam lelap, sampai aku akhirnya sadar kalau itu adalah nada telpon dari handphone Samsung milikku. Kulirik sebentar, nomor rumah 0411****** tertulis. Sialan. Aku mengumpat. Aku tahu betul nomor telpon itu dari Bank Mandiri. Kemarin Ia juga menelponku menawarkan kredit tanpa angunan dan sudah kutolak. Aku menekan tombol merah di handphoneku. Reject. Masalah selesai. Aku kembali melanjutkan tidurku. Tak berselang lama, suara TOP Bigbang kembali mengalun dan kali ini aku segera sadar, lagi kulirik layarnya tertulis nomor yang sama. Aku mengumpat sekali lagi. Mengecilkan volumenya dan kembali tidur. Terhitung tiga kali Mandiri mencoba tapi tidak kugubris. Aku mengambil iphoneku yang sejak tadi juga mengeluarkan nada chat pribadi whats app dan bbm. Banyak sekali percakapan yang menanyakan keberadaanku dan menanyakan beberapa pekerjaan yang mengaitku. Aku mengumpat sekali lagi. Ini hari liburku. Aku masih terhitung dinas sehabis melakukan perjalanan. Kenapa mereka tega sekali? Aku terus menggumam dalam hati. Kuletakkan iphoneku. Tak satupun chatnya kubalas. Biar saja mereka menyelesaikannya sendiri, ini hari liburku. Pekerjaan harus kulupakan. Aku memilih melanjutkan membaca novelku sampai rentetan telpon kantor silih berganti menyerang handphone Samsungku. Tak satupun aku angkat. Aku sama sekali tak menginginkan waktu liburku terganggu oleh pekerjaan. Satu prinsip yang sejak hari pertama aku bekerja, aku menggigitnya kuat. 



Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com

Kamis, 09 Juni 2016

D-4Ramadhan : Pallukacci bolu

"Masak ikan apa, Bu?" Tanyaku pada Ibu. Ibuku tak menjawab. Mungkin Ia tak mendengarku. Maklum, rumah kami yang berada di pinggiran jalan utama memang cukup bising. "Ikan bolu" jawab adikku singkat. "Yes" gumamku. Ibuku memang yang terbaik. Ia sudah tahu betul kalau anaknya ini sangat suka sekali makan ikan bolu, apalagi jika diolah pallukacci. Hmm. Lezatnya mengalahkan kari ayam. Aku sedikit membayangkan ikan bolu pallukacci sampai aku akhirnya sadar kalau aku sedang berpuasa. 

Beduk akhirnya tiba. Adzan maghrib mengalun indah. Alhamdulillah, dan ini saatnya menyantap habis olahan bolu pallukacci ibu. Aku mengambil kuah pallukacci dan memindahkannya di piring kecilku. Kutambahkan dua biji cabe merah dan juga mentimun (bonte) ke dalamnya. Kubiarkan timunnya terendam agar kuah pallukaccinya meresap. Bissmillahirrahmanirrahim, hap. Nasi, sedikit potongan daging ikan bolu (bandeng) dan mentimun plus potongan cabe dan kangkung tumis. Nyesss. Puas sekali rasanya. Pedas dan rasa asam manis bercampur. Nikmat sekali. Tambah nikmat lagi karena sudah seminggu lebih aku tak pernah mencicipi olahan Makassar. Tak terasa sepiring nasi dan dua potong ikan bolu habis kulahap. Aahhh, nikmat sekali. Bahagia rasanya bisa mencicipi masakan ibu. 



Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com

Rabu, 08 Juni 2016

D-3Ramdhan : Kejar Setoran

Kilat bersahut-sahutan muncul di langit Jakarta. Aku memerhatikan jendela dari kursi 5A Sriwijaya Air JT588. Jakarta sedang mendung rupanya. Beruntung cuaca masih terbilang normal sehingga penerbanganku menuju Cengkareng untuk transit lancar dan aman. Sesekali pilot memberikan tanda kepada penumpang untuk tetap mengenakan sabuk pengamannya melalui lampu kenakan sabuk pengaman. Aku mengingat tugasku pada kelas Menulis Sigi Makassar. Belum kusentuh rupanya (tulisan ini salah satu tugasku). Masih ada beberapa deadline yang belum kusetor sejak bulan kemarin. Alasan kesibukan selalu menjadi tamengku. Padahal jika mau diteliti lebih dalam, aku sama sekali belum bisa dikatakan orang yang sibuk. Sebut saja aku tipikal orang yang belum mampu mengatur waktu dengan baik. Malas masih saja menjadi teman setiaku. Tidur masih menjadi hobiku. Untung saja kebosanan di dalam pesawat membuatku untuk bergerak mencari ide menuliskan sesuatu. Meskipun tulisan yang kubuat ini sama sekali tak memiliki kekuatan ide di dalamnya.

Pesawat Sriwijaya Air yang aku tumpangi telah mendarat dengan smooth di bandara Soetta, Cengkareng, yang berarti tulisan ini juga harus selesai disini.


Maaf jika cerita ini kurang menarik. Karena sesungguhnya yang menarik itu adalah diri anda.

Salam.


Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com

D-3Ramadhan : Kenangan

Pesawat Sriwijaya Air yang kutumpangi baru saja mematikan lampu tanda kenakan sabuk pengaman, salah satu tanda bahwa pesawat sudah mencapai posisi stabilnya di udara. Aku membuka bekal untuk berbuka puasaku, yang sudah kubeli sebelumnya di sebuah gerai makanan di bandara Minangkabau, Padang. Menu berbuka yang sederhana. Hanya ada sepotong ayam crispy juga sebungkus nasi. Snack pemberian maskapai sriwijaya masih belum kusentuh. Aku Hanya memakan 2 biji kurmanya yang sudah habis sejak tadi. Aku memulai makan tanpa melupakan rasa syukurku pada Tuhanku. "Alhamdulillah" gumamku tak henti. Menikmati makananku, ntah saraf bagian mana di kepalaku yang mengajakku untuk mengenang makan siangku berdua dengan lelaki itu. Lelaki yang sudah berhasil masuk dan menghiasi hariku sepanjang 2 tahun ini.
Waktu itu hari kamis -aku lupa tanggal berapa- kami berdua menikmati makan siang di EXO and Dimsum Mall Panakukang-Resto favoritku jika ingin menikmati olahan seafood. Siang itu tak ada yang special. Hanya saja kami berdua termasuk orang beruntung yang memiliki hari yang lowong setelah melakukan perjalanan dinas. Aku baru saja pulang dari Kota Mamuju, Sulbar dan Ia baru saja pulang dari Kota Semarang, Jawa Tengah. Seperti biasa saat tengah makan bersama, kami menyempatkan untuk saling bertukar cerita tentang apa yang telah kami lakukan dihari sebelumnya. Dan selalu saja kami menjadi pendengar yang baik untuk masing-masing. Sambil bercerita, aku menuangkan beberapa buah dimsum ke dalam mangkuk kecilnya. Matanya berbinar saat memasukkan sesendok kuah ayam ke mulutnya. Dan selalu saja kata "Seger" keluar dari mulutnya selepas mengicip kuah pertama. Akupun ikut menuangkan ke dalam mangkuk kecilku. Aku memilih kuah tomyam untuk kusantap. "Aahh. Lezat sekali". Rasa capek dihari sebelumnya serasa menghilang. Kami berdua mulai melahap satu persatu dimsum yang masih menggeliat di atas panci dengan kuah yang memanas. Perutku sudah mulai merasa kekenyangan tapi dimsum yang kupilih masih tersisa banyak dalam panci. Melihatku yang tak lagi memakan nasi yang telah kupesan, Ia tertawa. "Ayo loh. Makanannya harus habis. Tanggung jawab sendiri" katanya diikuti kekehan. Aku tersenyum. "Iyaa. Asal kamu ga buru-buru ini bakalan habis kok. Aku hanya butuh bernafas sedikit" ucapku sambil melonggarkan celana. Aku melirik dimsum miliknya tersisa tiga biji. Curang sekali. Kami memang sepakat untuk bertanggung jawab ketika memesan makanan. Pesan sesuai kesanggupan. Tak boleh ada yang tersisa. Aku meminum mojito strawberryku lalu kembali menyantap perlahan dimsumku. Dimsum miliknya sudah habis. Ia tertawa melihat tingkahku yang menunjukkan tanda sangat kekenyangan. "Ya udah kalo ga bisa ga usah dipaksain. Tapi lain kali ga boleh seperti ini. Aku suka kamu makan banyak, tapi jangan mubazir" katanya sambil tersenyum. Ah, senyum yang mengejek sekali. Aku buru-buru mengatakan kalau aku sanggup menghabiskannya dan meminta Ia untuk sedikit bersabar. Sekitar 30 menit aku meminta tambahan waktu darinya untuk menghabiskan makananku. Waktu yang cukup lama untuk hanya memakan dimsum yang tersisa 6 biji. Aku meminta waktunya lagi untuk mengatur nafasku yang mulai berubah sejak aku kekenyangan. Setelah aku merasa nyaman dengan perutku, kamipun memutuskan mulai berkeliling Mall Panakukang.

Satu kenangan makan siang yang selalu membuatku tertawa jika mengingatnya. Mengingat senyum dan tawanya yang mengejekku.

Aku tersenyum simpul sendirian di dalam Pesawat Sriwijaya Air yang melaju cepat dan semakin jauh meninggalkan daratan sumatera menuju Bandara Soetta, Cengkareng. Nasib ayam crispy juga sebungkus nasi tadi sudah mendarat dengan aman di dalam perutku. Makan malam sederhana. Sesederhana aku yang bahagia karena mengingat kenanganku.

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan ketjeh teman lainnya di:
* nuralmarwah.com
* bukanamnesia.blogspot.com
* nurrahmahs.wordpress.com
* rahmianarahman.blogspot.com
* kyuuisme.wordpress.com
* inanovita.blogspot.com
* rancaaspar.wordpress.com
* inditriyani.wordpress.com
* uuswatunhasanah.tumblr.com
*begooottt.wordpress.com