Rabu, 29 Mei 2013

Hari Selasa yang penuh Cerita

Pagi itu, seperti biasa aku bangun pukul 08.00 pagi. Syndrome insomnia yang kuderita akhir-akhir ini cukup mengganaskan. Jadilah, demi alasan kesehatan aku memilih mencukupkan tidurku 7 jam. Meski konsekuensinya adalah bangun pukul 08.00 pagi. Setelah membereskan tempat tidur dan menyiapkan beberapa hal yang berkaitan dengan kuliah, aku menyetrika bajuku. Kupilih tema coklat untuk hari ini. Meski moodku lumayan baik. Ntah kenapa aku memilih tema sedikit gelap. Pukul 11.45 aku meninggalkan kosanku menuju kampus. sesuai rencana, aku menyempatkan diri untuk singgah ke tempat layanan print autocad langgananku. maklum saja, meski seorang anak teknik sipil yang murni sipil. (Murni sipil Baca: jalan dan jembatan) aku sama sekali tidak ahli dalam hal gambar menggambar. Kemampuan gambarku sangat cetek. Aku kadang dibuat kagum dengan keterampilan dan keahlian tukang print tempat langgananku yang bisa dibilang expert dalam hal ngeprint (penyesuaian skala). Hehe.
Pukul 12.00 aku sudah meninggalkan tempat print dan langsung menuju kampus. dan seperti biasa, sebelum masuk kuliah, aku dan teman kelasku menyempatkan untuk makan siang terlebih dahulu. Berhubung karena kami adalah mahasiswa regular sore, maka makan siang merupakan sebuah kewajiban buat kami.
Pukul 14.45 dosenku yang paling “menyenangkan” semester inipun masuk. dengan semangat beliau menjelaskan semua materi drainase yang berkaitan dengan tugas besarku. Sayangnya semangat beliau sama sekali tidak menular kepadaku. Aku malah sibuk bermain Fruit Slice ninja di tablet milik temanku sambil sesekali ikut nimbrung dengan pembicaraan teman-temanku. Puas bermain fruit slice, akhirnya aku bisa focus kembali. Namun, seperti biasa pula, fokusku harus terbela dua untuk bisa konsentrasi. Yah, entah kenapa, jika fokusku terbagi dua, maka satu titik utama pasti menyita full konsentrasiku dan membuatku bisa konsen lebih dari 30 menitan (waktu normal konsen 15-20 menitan). Akhirnya, setelah beberapa materi, kuliah beliau diakhiri dengan “mid” dadakan. 2 soal. Namun cukup rumit untukku yang memang tidak memperhatikannya dari awal. penyesalan pun merasukiku. Tapi, tak apalah. Kali ini aku bisa memanfaatkan bantuan dari teman kelas lain yang kebetulan sekelas denganku.
Pukul 16.45 aku meninggalkan ruang kuliahku. Dosenku terburu-buru mengumpulkan pekerjaan kami meski belum full selesai. Setelah meninggalkan ruangan, aku menuju ruang server untuk menemui dosen pembimbingku yang sudah janjian untuk konsultasi hari itu. Menunggu beberapa menit dengan sedikit kegalauan karena pukul 18.00 aku harus berada di Mall Panakkukang (sekitar 30 menit, waktu normal. Dan sejam untuk kondisi jam sibuk dengan tingkat kerapatan dan kepadatan 0.8 %). Yah, aku harus berada disana pukul 06.00 tepat untuk tidak telat masuk bioskop menonton Film Favoritku Furious 6. Setengah jam konsultasi dengan keputusan akhir pembimbing “Saya harus selesai bulan 6 atau tidak sama sekali” membuatku stress tingkat akut.  Dengan pemikiran tentang deadline, pukul 17.30 aku meninggalkan kampus. dengan stress tingkat akut dan rasa was-was tingkat dewa akan macet, kupacu kecepatan motorku secepat mungkin agar bisa sampai tepat waktu. Dan sebuah keberuntungan, macet segment jalan Adipura yang sangat kukhawatirkan tidak terjadi hari ini. Berulang kali kulihat jam tanganku memastikan bahwa jam tersebut adalah titik jam sibuk.
Akhirnya, dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam Mp kutempuh dengan waktu kurang dari 30 menit. Setelah memarkir motor, aku segera menuju 21 MP. Setelah tolah-toleh kiri kanan, akhirnya aku bisa menemukan 21 dan dengan cepat pula menemukan teman-teman yang juga nonton bersamaku. Sejenak aku melepas kepenatan di toilet. Menyadarkan diriku yang masih setia pada pemikiran deadline. “It’s time for fun baby” kataku dalam hati.
Pukul 18.20 kami memasuki studio 1 21 untuk menonton Furious 6. Disambut dengan balapan Dom dan Brian membuatku sejenak langsung melupakan deadlineku. Seluruh perhatianku tertuju pada film itu. Kunikmati setiap part filmnya. Sedikit tegang dan sangat terkesan dengan perhitungan timing setiap kejadian dalam filmnya. Hampir 2 jam dibioskop dengan film yang sangat mengesankan membuatku melupakan “ancaman” pembimbingku sore tadi. Setelah keluar bioskop, aku dan teman-teman menuju RM Borobudur untuk santap malam. Bercengkrama ria sambil menikmati makanan kami, membuatku lupa akan waktu. Pukul 21.30 kami baru meninggalkan MP. Was-was menyelimutiku lagi ketika keluar dari pintu gerbang MP. Besok pagi sebelum kekampus aku harus mengantar kakakku ke sebuah tempat, siangnya asistensi tugas besar yang belum kuselesaikan dan sorenya, aku harus kembali bertemu dengan pembimbingku untuk memperlihatkan hasil hitunganku. Ah,, berat. Terlalu banyak yang harus kulakukan namun waktu tak cukup bagiku. Apalagi ditambah adengan aku lupa membeli sebuah mouse untuk menggambar. Err,, -_-

Sampai tulisan ini selesai, aku baru saja menyelesaikan satu deadline untuk pembimbingku. Namun, tak bisa kulanjutkan karena beberapa hal tidak kumengerti dan esok pukul 7 aku harus mengantar kakakku sedang sekarang sudah pukul 2 lebih. Istirahatku “terpaksa” harus tak sempurna hari ini. Tapi, apapun itu Thanks buat ALLAH yang sudah ngasih semuanya buatku hari ini, esok dan seterusnya. I love my life. I love my choice. Whatever I do, that’s what I love and what I like. See you in Juni guys. Hope everything’s fine.  

Selasa, 28 Mei 2013

I'm still waiting

Malam itu, saat sedang asyik menonton TV, sebuah pesan masuk di hpku. Tertulis nama Aan, mantan pacarku sebagai pengirimnya. Segera kubuka. “Sombong nih yee” bunyi smsnya. Aku heran bercampur bahagia. Segera kubalas smsnya dengan mengatakan “sombong kenapa?” . “Dipanggil ga noleh. Serius amat bicara dengan Mira” balasnya. “Kapan? Kamu disini?” tanyaku melalui sms. “Tadi sore. Depan rumah kamu. Dipanggil ga noleh. Sombong yah sekarang” balas Aan dari seberang. “Kamu disini? Sejak kapan? Pulangnya kapan?” tanyaku bertubi-tubi. “Iyya. Sejak kemarin. Mungkin besok sore udah balik lagi.” Jawabnya. Aku bahagia bukan main membaca smsnya. Rasa rinduku padanya memuncak. Belum sempat aku membalas smsnya, hpku bergetar lagi. Sms dari Aan. “Put, besok pagi ada waktu ga?  Ketemu yuk. Kangen juga sama kamu” tulis Aan. “ada. Ya udah besok jam 6.00 di pantai seruni gmn?” tanyaku. “Okee siip” balas Aan. Aku loncat-loncat sendirian ditempat tidur melihat sms tanda setuju dari Aan. Ingin rasanya segera bertemu hari esok. Aku membayangkan senyum khas Aan. Meskipun sudah menjadi mantan, entah kenapa aku masih saja berharap pada Aan. “ah, andai saja kamu masih disini, mungkin cerita kita tak berhenti” gumamku sendirian.

Keesokan harinya, tepat pukul 05.30 aku sudah terbangun. Setelah menyelesaikan beberapa kewajiban, aku segera mandi dan bersiap. Terlalu pagi untuk hari Minggu. Setelah semuanya siap, aku meraih hpku dan mencari nama Aan. “An, jadi?” tanyaku melalui sms. Beberapa menit kemudian, sms balasan datang “Iyya. Aku on the way yah” tulis Aan. Segera kuraih kunci motor dan meluncur segera menuju Pantai Seruni. Aku hanya butuh waktu 5 menit menuju pantai. Jarak pantai seruni dan rumahku hanya sekitar 500 meter. aku memarkir motorku dipinggir jalan sambil melihat ke semua sudut mencari sosok Aan. 10 menit lebih aku menunggu, hingga sms Aan datang. “dimana?” tanyanya. “Pinggir jalan depan taman” balasku. 3 menit kemudian, sosok Aan muncul dihadapanku. Dia menggunakan motor, berboncengan dengan seorang cewek. “Sudah lama?” Tanya Aan setelah memarkir motornya. “Lumayan” jawabku pelan. “Siapa?” bisikku. “Sepupuku” jawab Aan. Aku hanya mengangguk pelan. Bersyukur karena ternyata cewek itu adalah sepupu Aan. “Bantaeng sekarang keren yah. Sudah ada anjungannya. Makassar bisa kalah nih” Kata Aan membuka percakapan. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. “ini sudah berapa lama?” Tanya Aan sambil menunjuk anjungan Pantai Seruni. “setahun sepertinya” jawabku. “kok pake sepertinya?” Tanya Aan lagi. “hahaha. Ga yakin soalnya. Aku juga baru pertama kali kesini” kataku. Aan tertawa kecil mendengar jawabku.

 “Kak, ga jalan?” Tanya Aan pada sepupunya. “bentar. Lagi setel dulu” jawab Sepupu Aan. Kulihat tangannya sibuk memainkan setiap tombol dikameranya. “an, berdiri disana coba” panggil sepupu Aan. Aan yang berdiri disampingku berjalan menuju lokasi yang ditunjuk sepupunya. “Okee. Thank you” kata sepupu Aan setelah beberapa kali take. Aan kembali berjalan kesampingku. “oia, lupa. Putri, kenalin sepupuku Kak Dika” kata Aan. Kak Dika, sepupu Aan menoleh sambil tersenyum. “Putri Kak” kataku sambil mengulurkan tangan. “Dika” katanya sambil mengulurkan tangan pula. “ke tengah yuk” ajak Kak Dika. Aku dan Aan mengangguk dan mengikuti kak Dika dari belakang. “Gimana sekolahnya?” Tanya Aan. “Bagus. Kamu?” tanyaku balik. “Sama. Sekarang lagi sibuk persiapan ospek” kata Aan. “tau deh.. yang ketos” kataku sambil tersenyum. “Emang ospeknya kapan?” tanyaku lagi. “Mungkin 20 juni”. “secepat itu?” tanyaku lagi. “Iyya. Memangnya kamu kapan?” Tanya Aan balik. “Ga tau. Tapi mungkin 25 Juni”. “Yee.. itu sih sama aja neng” kata Aan sambil menghamburkan rambutku. “eeehhhh.. gak berubah yah” kataku jengkel. Aan hanya tersenyum lebar. “Kak, aku disini yah” kata Aan kepada Kak Dika. “Okee. Enjoy your time” Balas kak Dika. Kami berduapun duduk di tangga depan Anjungan. Sementara kak Dika berada di Anjungan sambil sibuk mengarahkan bidikan kameranya kesana kemari.

“gimana kabar Ary?” Tanya Aan membuka percakapan. “Baik. Dia sekarang dengan Mira” kataku. “Oh ya?? kok bisa.. hmm,, dasar Ary playboy” kata Aan. Aku tertawa ringan. “sudah tau kalau Amel pindah ke Surabaya?” tanyaku. “Oh, yaa. Kapan?” Tanya Aan balik. “Iyya. Sekitar 2 bulan yang lalu. Dia ikut ayahnya”. “kok Amel ga bilang yah?” Tanya Aan lagi. Aku menaikkan pundakku pertanda tak tahu. Raut wajah Aan sedikit berubah. Mungkin kecewa dengan Amel yang tidak mengabari kepindahannya. Dulu, Amel dan Aan adalah sahabat karib. Dimana ada Aan, disitu pasti ada Amel. Letak rumah mereka yang berdekatan membuat keduanya sangat akrab. Seperti bersaudara. Sebelum pacaran dengan Aan dulu, aku sempat mengira kalau Amel itu adalah pacar Aan.


Jumat, 24 Mei 2013

Belum ada Judul ^:^

Siang itu, saat sedang istirahat sendirian di rumah, tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan sms yang bertuliskan nama Iam sebagai pengirimnya. Iam adalah teman dekatku sekitar setahun terakhir ini. Namun, sebuah kesalahpahaman antara aku dan dia merenggangkan hubungan kami. Apalagi, setelah sebulan terakhir Ia menghilang dan tak ada kabar sama sekali. Sms dari Iam segera kubuka dan kubaca. Isinya berbunyi, “Dimana? Aku ke rumahmu yah sekarang”. Belum sempat kubalas, sms selanjutnya masuk. Isinya berbunyi, “aku sudah on the way. 10 menit lagi disana”. Aku bingung bercampur heran. Bingung karena Ia seakan sudah tahu aku sedang dirumah. Dan keheranan karena Iam tiba-tiba ingin bertemu. Masih teringat jelas dikepalaku, bagaimana Ia menghilang selama sebulan hanya karena kesalahpahaman status pacaran.

 Belum cukup 10 menit setelah sms terakhirnya, hpku berdering lagi. Kali ini bukan sms, tapi telpon. Kulihat nama Iam tertulis dilayar. “iyya kenapa?” kataku memulai. “Aku dibawah” jawabnya singkat. Mendengar jawabannya, aku segera mengganti pakaian dan turun kebawah. Dari tangga kulihat, Iam sudah duduk di kursi yang tersedia di teras. Tampak Ia sedikit agak kurusan setelah sebulan menghilang. “Hey” sapaku pertama. Dia tersenyum ringan. Tergambar jelas penyesalan dan keinginan meminta maaf dalam wajahnya. Aku mengambil kursi. Sebuah meja kutarik ke tengah, sebagai pemisah. Aku duduk memandang keluar. Mengamati setiap tangkai pohon mangga yang tumbuh dihalaman depan, berharap Iam memulai percakapan. “Gilaa.. awkward” gumamku dalam hati. Iam diam membisu. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ia menatap keluar. Entah apa yang dilihatnya. Dan entah apapula yang tengah dipikirkannya. 15 menit berlalu, Iam masih diam membisu. Sesekali dia mengusap wajahnya. 30 menit berlalu, dan Iam masih saja diam. Ingin sekali rasanya aku memulai percakapan, tapi rasa kecewaku terhadapnya menahanku.


“Mau kemana?” tanyanya pelan ketika aku beranjak dari tempat dudukku. “ambil minum” jawabku. Mendengar jawabku, Ia hanya tersenyum. “errr,, sumpah.. kenapa bisa seawkward ini?” tanyaku sendirian begitu sampai di dapur. Sambil mencari minuman di kulkas, aku menata percakapan. Beberapa pertanyaan kusiapkan dan kutata rapi dikepalaku.
“Buat kamu” kataku sambil mengulurkan sekaleng jus jeruk ukuran sedang. “Makasih” jawabnya singkat sambil tersenyum. Senyum yang masih sedikit dipaksakan untuk menutupi kecanggungan. Aku membuka minumanku, dan segera meminumnya beberapa teguk. Dahagaku hilang. Tapi, tidak dengan kecanggunganku. Kulihat Iam memutar-mutar kaleng minumannya. Tak sedikitpun kulihat tangannya bermaksud membuka kaleng minuman itu.
Aku menghela nafas panjang. Ingin rasanya membuka percakapan, tapi egoku melarang. Tak terasa, sudah lebih sejam kami duduk dan saling diam. Sebelum adanya masalah itu, meski kami duduk saling diam, pikiran kamilah yang saling menyapa. Namun entah kenapa, saat ini aku tidak bisa menjangkau pikirannya. Pun mungkin demikian baginya.


Sudah lebih 2 jam. Minumanku sudah habis. Tapi tidak bagi Iam. Minumannya masih utuh. Belum berubah sedikitpun. Aku sudah mulai bosan. Sms ajakan hang out dari seorang teman menggodaku untuk meninggalkan Iam. Lagi, lagi, aku menghela nafas panjang. Sesekali kulihat jam di tanganku. Bermaksud menyinggungnya secara halus. Dan, benar saja. Ia menoleh dan menatapku sesaat lalu kemudian menunduk seraya berkata “Maaf”. Suaranya pelan dan hampir tak terdengar. “kenapa?” tanyaku ingin memastikan apa yang kudengar. “Maaf atas sebulan kemarin” katanya pelan. Tatapannya lurus kedepan. “Maaf sudah membuatmu khawatir”. “Dan maaf pula karena keegoisanku” tambah Iam. Aku speechless. Kalimat-kalimat yang sudah kususun tadi, hilang entah kemana. “aku salah karena menuntut perubahan status” kata Iam lagi. “aku ga tau mau bilang apa ke kamu. Yang pastinya, aku kecewa Yam. Aku kecewa melihat kamu yang berubah drastis. Sangat tidak masuk akal, kamu memilih menghilang hanya karena masalah tersebut” ujarku dengan semangat. Emosi yang lama kupendam mulai memuncak. “Kita sudah dewasa, Yam. Tak semestinya persoalan status “pacaran” menjadi sebuah permasalahan” tambahku. Iam hanya menunduk. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. “aku ragu kita bakal kayak dulu lagi. Aku ragu bisa mendapati rasa dan keakraban itu lagi denganmu” ujarku. Iam menatapku dalam. “kita bisa mulai lagi dari awal dan mungkin kita bisa jauh lebih dari yang kemarin” kata Iam. “Mulai dari awal dan setelah itu kamu nuntut perubahan status lagi?” kataku dengan emosi. “Aku ga bisa Yam. Sebulan kamu menghilang dan tak ada kabar, cukup membuatku banyak berpikir” kataku berapi-api. Iam menunduk lesu mendengar penjelasanku. Tergambar jelas penyesalan dalam wajahnya. “apa gunanya status itu. Toh, tanpa status itupun, perhatianku ke kamu selalu lebih dari yang lain” ujarku. “Setahun lebih dan kamu sama sekali tidak menyadarinya, Yam”. “kamu melewatkan semuanya, karena focus pada titik yang salah” tambahku. Terdengar jelas helaan nafas Iam. “aku banyak salah. Tapi, aku mau kita kayak dulu lagi” kata Iam. Mukanya memelas. Kulihat jelas, penyesalan berat diwajahnya. “apapun statusnya. Terserah kamu. Yang penting kita bisa dekat lagi” tambahnya. Aku menghela nafas sebelum berbicara, “Dinding itu sudah ada, Yam. Dan akan sulit menghilangkannya”. “Kita coba dulu. Dinding itu biar aku yang hancurkan” Ujarnya. “Susah.” Ujarku singkat. “3 bulan. Kalau kamu merasa dinding itu masih belum mampu kuhancurkan, aku mundur Mel ” kata Iam berusaha meyakinkanku. Dikepalaku berkecamuk pilihan harus bilang apa. “Iyya” atau “tidak”. Iam menatapku dalam, menunggu jawaban. Aku bingung. Ketakutan merengkuhku. Aku takut kecewa untuk kedua kalinya. Aku takut hal yang sama akan terjadi lagi. Dan, Aku takut tidak bisa memercayai Iam lagi. Semua hal berputar dikepalaku.


Berulang kali kuhela nafas panjang. Pandanganku lurus kedepan. Kosong. Kulihat bayangan bagaimana Iam mengantarku pulang dan tanpa sepatah katapun Ia memutar mobilnya dan meninggalkanku waktu itu. Dan Kulihat pula bayangan diriku yang sangat khawatir dengan keadaannya. “Mel, hanya 3 bulan. Setelah itu, terserah kamu” kata Iam membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Menatapnya dalam-dalam. Mencoba mencari secercah keyakinan darinya. 1 hal yang bisa Memantapkan hatiku. 1 hal yang bisa Meruntuhkan keraguanku. Dan akhirnya kutemui. Satu sisi darinya yang berusaha meyakinkanku untuk berkata “iyya”. “gimana Mel? ” tanya Iam meminta jawaban. “Okey. Kita coba dari awal. Kita perbaiki semuanya.” Ujarku pelan. Sangat pelan. Senyum merekah diwajahnya. “Ingat. Ga ada lagi persoalan STATUS. Jika dimasa depan, Kita dipersatukan dalam sebuah ikatan, maka saat itulah kamu harus menuntut perubahan, Janji?” kataku lagi. “Janji. Sejanji janjinya” ujar Iam sambil menaikkan jari kelingking. Akupun menaikkan jari kelingkingku. Iam melingkarkannya, dan tak lupa jempol kami mengecapnya sebagai pernyataan sah. Berjanji untuk tidak mengingkarinya. Meskipun dalam sebuah perjanjian yang tak resmi.

Senin, 20 Mei 2013

Dilema Pemerintah ^^


Saat tengah menyelesaikan tulisan #CeritabulanMei Sabtu malam (Malam minggu) kemarin, Facebook milik saya yang pada saat itu juga saya buka tak henti-hentinya mengeluarkan suara pesan masuk. Pesan masuk tersebut berasal dari Chatbox  komunitas saya. Karena takut orang disamping saya terganggu, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan pengaturan ulang dengan mematikan  suaranya. Pada saat pengaturan ulang ini, tanpa sengaja saya melihat potongan obrolan teman saya. Dia menyebutkan kata “Baja Ringan”. Tentu tak bisa dipungkiri, saya yang sedikit mengetahui tentang baja ringan penasaran. Penasaran karena menurut saya, tidak wajar seseorang menyebutkan tentang baja ringan sebagai bahan becandaan, apalagi di chatbox tersebut. Saya juga penasaran karena orang yang menyebutkan kata baja ringan itu adalah seorang anak Biologi, yang meskipun beliau adalah tipe orang yang tahu banyak, rasanya tak wajar jika membahas tentang Baja ringan di chatbox tersebut.
Akhirnya, untuk mengobati rasa penasaran saya, segera saya kirimkan sebuah pesan pribadi, menanyakan tentang sedang membahas apaan sampai Baja ringan diikutkan. Kakak tersebut membalas dengan mengatakan “kalau tadi dia sempat melihat berita tentang Penggusuran di sekitar waduk Katulampa. Katanya sebagian warga disana tinggal diatas tanah pemerintah, mengaku miskin dan menolak untuk direlokasi ke rusun yang telah disediakan. Hal ini yang membuat Wakil Gubernur Jakarta Ahok naik pitam. Ahok mengatakan kalau masyarakat itu tidak miskin, karena menggunakan baja ringan”. Setelah membacanya, saya tiba-tiba ingat dengan cerita seorang teman di Jakarta sewaktu banjir besar melanda Jakarta beberapa bulan lalu. Teman tersebut mengatakan kalau Jokowi sempat marah ketika melihat masyarakat yang ingin dipindahkan ke tempat yang lebih layak, tidak mau meninggalkan rumahnya yang merupakan daerah yang sangat rawan banjir. Teman saya tersebut menambahkan, kalau tempat yang disedikan pemerintah itu merupakan sebuah rusun yang telah dilengkapi dengan fasilitas seperti TV, tempat tidur, sofa. Biaya sewanya juga digratiskan selama 3 bulan. Dan harga sewa dibulan selanjutnya tergolong lebih murah dibanding dengan harga sewa ditempat mereka yang rawan banjir. Ckckck.
Setelah berdiskusi panjang lebar dengan Kakak tersebut di chatbox, sayapun teringat dengan kata-kata dosen yang juga merupakan pembimbing saya. Beliau disetiap waktu mengajarnya tak pernah berhenti membahas tentang dilema pemerintah. Salah satu bentuk dilema pemerintah yah seperti contoh diatas. Pemerintah terkadang sudah menyediakan sebuah tempat, masyarakat yang tidak mau. Ketika dilakukan penggusuran, mereka teriak-teriak haknya dirampas. Padahal jelas-jelas mereka yang salah. Mendirikan bangunan diatas lahan pemerintah. Bukan hanya di Jakarta. Di Makassarpun sama. Hanya di Makassar, kasusnya sedikit lebih kecil. Contohnya apa? Contohnya yaitu bangunan-bangunan yang “katanya” bersifat sementara yang berdiri dipinggir jalan (ex: Bangunan-bangunan didekat pintu 0, pintu 1 dan pintu 2 atau bangunan didepan kampus Unismuh). Sewaktu membangunnya, mereka mengatakan kalau bangunan tersebut sifatnya sementara. Ketika ada masa Jalan diperlebar dan  mereka digusur, mereka naik pitam. Demo. Teriak-teriak kalau haknya dirampas. Pura-pura lupa kalau tanah tersebut milik pemerintah. Ckckckck. Perlu diketahui bahwa setiap ruas jalan, diwajibkan memiliki Bahu jalan jika tidak memiliki lahan parkir (Jalan tipe 2). Selain itu, Jalan juga masih memiliki lahan yang namanya Daerah milik jalan dan Daerah pengawasan jalan. Lebar lahan ini sekitar 5-10 meter dari tepi badan jalan. Jadi, sudah sangat jelas mereka itu melanggar. Membangun diatas lahan pemerintah dan kemungkinan besar bangunan tersebut juga tidak memiliki IMB. Ckckck..
Terkadang saya heran melihat masyarakat yang mau mati-matian mempertahankan bangunannya. Padahal mereka jelas-jelas salah. Atau kadang pula saya kasihan dengan beberapa teman yang bekerja di perusahaan kontraktor yang mengerjakan proyek pelebaran jalan. Terkadang mereka harus siap lari karena pemilik lahan yang tidak mau menyerahkan lahannya membawa parang. Atau kadang pula saya heran dengan pemerintah yang tidak melindungi kawasan sekitar jalan yang masih milik jalan. Bukankah, jika diberitahu lebih dulu, kita bisa menghindari berdirinya bangunan tersebut. Dan 1 hal juga yang sangat membuat saya heran dengan pemerintah, yaitu adanya perbedaan harga ganti rugi lahan terhadap warga yang sebagian rumah atau pagarnya terkena pelebaran meskipun berada pada satu kawasan (geometric jalan yang berubah.red).

Yah, seperti itulah kita dan Indonesia. Kita yang masih saja terus-terusan lupa akan hak-hak kita terhadap pemerintah dan Negara. Dan pemerintah yang juga masih keseringan lupa terhadap kita. Jujur saya sangat berharap, ada satu masa Pemerintah mau menerapkan perencanaan jangka panjang min 10 tahun kedepan. Perencanaan tata ruang kota yang tidak berubah meski dengan bergantinya penguasa. Perencanaan yang semua orang menyetujuinya. Karena saya yakin, perencanaan jangka panjang dapat membatasi kita dalam hal pembangunan yang bersifat sembrono (asal bangun). Yah hanya itu yang saya dan beberapa dosen saya harapkan. Perencanaan jangka panjang. :)



Sabtu, 18 Mei 2013

Dari Pemain Bola sampai soal Cinta.

Berbeda dengan malam minggu lainnya, hari ini saya menghabiskan waktu dirumah bersama dengan seorang kakak saya. Hari ini kebetulan, Ayah saya baru saja pulang dari Riau, jadi Ibu, adik dan ponakan saya menjemputnya dibandara. Jadilah, hanya kami berdua menjaga rumah dan menjaga warnet kami.. hehehe

Pukul 19.00 WITA setelah menyiapkan berbagai hal untuk makan malam, akhirnya kamipun mulai makan. yah, seperti biasa saat hanya kami berdua, pastinya pembicaraan tentang dunia sepak bola tak bisa dipungkiri. Meskipun kami perempuan, entah kenapa kami menyukai olahraga sepak bola. Kaka saya adalah fans berat David Silva, yang berarti merupakan fans Spanyol dan juga Fans berat City (panggilan akrab Man.City) dan saya adalah seorang fans berat Frank Lampard yang berarti fans berat Chelsea. Tapi, untuk negara, saya lebih menyukai German daripada Inggris. 

Topik pertama kami yaitu tentang keberuntungan Torres. Torres yang notabene adalah pemain Chelsea dan juga pemain Timnas Spanyol merupakan salah satu pemain sepak bola yang sangat beruntung. Kenapa kami bilang begitu? Coba saja teman-teman melihat 3 pertandingan Final terakhir yang diikuti Torres (Champion, Eropa League dan Euro), ketiga final tersebut Torres mencetak sebuah gol, yang jika dipertandingan biasa lainnya kadang dia lumayan susah untuk mencetak gol. Hmmm. Lucky person. Hahaha

Topik kedua, kami masih setia dengan dunia sepak bola. Kali ini kami membahas tentang pemain sepak bola   Eropa yang beragama Islam. Dan yang menjadi aktornya yaitu Frank Ribery. Yah, kakak saya menceritakan kalau dia sempat membaca sebuah artikel di Internet yang mengatakan kalau Ribery marah dan tidak ingin berbicara lagi dengan Jerome Boateng karena Boateng dengan sengaja menyiramnya dengan minuman keras disalah satu acara party klub mereka. Kami membahas tuntas tentang Ribery yang seorang Muallaf yang sangat teguh pada aturan Islam. Setelah Ribery, Ozil, Demba Ba, Khedira, Yaya Toure, Nasri, Dzeko menjadi bahan pembicaraan kami. Dan tak lupa, RVP yang masih diragukan muslim atau bukan. hehehe. 

Topik ketiga sepertinya melenceng jauh dari topik pertama dan kedua. Disisa-sisa terakhir makanan di piring kami, Entah kenapa, topik ketiga beralih ke Korea. Entah kenapa dan bagaimana, kami tiba-tiba saja membandingkan antara BIGBANG dan Westlife, dan Backstreetboys. Membandingkan mulai dari style, pakaian, hingga genre musik mereka. hehehe 

Dan, topik terakhir sangatlah jauh melenceng dari ketiga topik diatas. Topik terakhir kami, yang juga entah kenapa bisa kami bahas, yaitu masalah CINTA. hahahaha. Yah, tadi tanpa sengaja kami merembes ke topik tersebut. Menceritakan berbagai kisah teman-teman dengan masalah cintanya, mulai dari yang normal hingga yang sedikit extrim (hampir bunuh diri). Saya sedikit terheran-heran ketika kakak saya menyebutkan salah satu temannya yang hampir saja bunuh diri karena diputuskan oleh pacarnya. Saya kenal betul orang itu. Dan sangat tidak masuk akal menurut saya jika orang tersebut mau melakukan hal semacam itu. Berulang kali kakak saya meyakinkan. hehehehe 


Masih soal CINTA tapi beda tokoh. Kakak saya kemudian membandingkan salah seorang temannya tadi dengan salah satu Tentornya yang batal nikah tapi santai saja. hehehe.. 2 cerita berbeda, namun sangat berarti hikmahnya. Karena, dari 2 kisah itu kami menarik kesimpulan "Jangan pernah menganggap masalahmu berat. Karena pasti akan ada seseorang yang memiliki masalah yang lebih berat". 2 kisah itu cukup membuat kami belajar bagaimana caranya menanggapi sebuah masalah. Menanggapinya dengan bijak dan menyerahkannya pada ALLAH saja atau menanggapinya dengan lebay.. hehehe. Selanjutnya, entah kenapa kakak saya menanyakan "apakah saya pernah jatuh cinta atau belum?". Kontan saja, saya tertawa terbahak-bahak. Antara keheranan dan kebingungan. Dan akhirnya sayapun menjawab seadanya dengan mengatakan "Ntahlah. Sepertinya belum. Kalau suka sama orang sih sering. Tapi, yang menjurus ke rasa sayang apalagi cinta rasanya belum". "yah, semoga kita jatuh cinta pada orang yang tepat. Pada orang yang memang pasti menjadi pasangan hidup kita" ujar Kakakku sambil memutar lagu milik Train yang berjudul 50 ways to say goodbye. Yang entah kenapa menjadi lagu penutup dari diskusi aneh kami. hehehe 







Tulisan ini termasuk dalam "permainan menulis" dengan salah satu teman yang sama-sama ingin belajar menulis, #CeritaBulanMei.

Selasa, 07 Mei 2013

Enyahlah..!!


Entah kenapa semester ini terasa teramat berat. Jika dibandingkan dengan semester-semester yang lalu, semester inilah yang memiliki jumlah mata kuliah yang sedikit. Meski begitu, bagiku semester inilah yang berat. Berat bukan dalam artian, mata kuliahnya berat. Tapi, lebih kepada arti berat dalam melawan kemalasanku. Biasanya, disemester-semester lalu aku baru merasakan kemalasan (jenuh) saat pertengahan kuliah, tepatnya saat tugas-tugas besarku keluar, namun kali ini tidak. Aku merasa sangat malas dan jenuh sejak dari awal perkuliahan. Berulang kali kucoba mengatasi, namun penyakit itu tak kunjung mau pergi. Rasa-rasanya aku tengah berada pada titik jenuh paling jenuh sepanjang perkuliahanku. Terus terang saja, aku sangat khawatir dengan kondisiku saat ini. Semester ini adalah semester akhir buatku. Jika tak bisa ujian meja pada tahun ini, maka harus menunggu setahun lagi untuk bisa wisuda. Tapi,,,, ntah kenapa meski beberapa kali kubayangkan hal-hal indah jika aku sudah lulus, hal itu sama sekali tidak mampu mengusir penyakitku. Pembimbingku sudah mulai menampakkan rasa “gemes”nya terhadapku yang bisa dibilang lamban dalam penyelesaian tugas akhir, namun toh itu tak mampu membuatku keluar dari zona kemalasan.
Rasa kantuk yang berlebihan selalu saja menyerangku setiap saat. Sudah kucoba meminum beberapa multivitamin, namun hasilnya tetap nihil. Aku tetap saja diserang kantuk yang berlebih. Jujur saja, Rasa kantuk yang berlebih ini merupakan factor utama kemalasanku. Hal ini jugalah yang sangat mempengaruhi fokusku terhadap kuliah. Tak jarang, aku harus tertidur dikelas beberapa menit saat sedang kuliah. Beberapa temanku pun sudah sangat sering menegur, melihat perubahan drastisku.
Penyakit ini sungguh sudah berada pada tingkat tinggi buatku. Semakin kuat aku berusaha melepaskan diri, semakin kuat pula tarikannya. Buku-buku, jurnal, serta majalah yang seharusnya kubaca sebagai referensi tugas akhirku, tak pernah kusentuh. Berdiri tegak dan berdebu dalam box bukuku. Kulihat murung wajahnya. Cemburu terhadap dslr, sejumlah film barat dan drama-drama korea yang selalu kutaksir tiap hari. Folder Tugas akhirpun sama nasibnya dengan buku-buku tersebut. Cemburu terhadap folder Drakor dan Film baratku. Wall of dreamku yang tertawa mengejek melihatku yang punya banyak mimpi tapi tak kunjung bergerak. L
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,,, pengen teriaaaaaaaakkkk sekencang-kencangnya..

Hey, kamu,,, kenapa kau sangat tertarik kepadaku, huh?? Pergilaaaaaaahhhh… please,, enyahlah kau.!! Cukuplah cerita yang kemarin. Kali ini Pliss,, enyahlah. Berpalinglah dariku.. Mr. TA sangat merindukanku.. ;)





Tulisan ini termasuk dalam "permainan menulis" dengan salah satu teman keren saya, yang sama-sama ingin belajar menulis, #CeritaBulanMei. #Edisicurhat. :)

Sabtu, 04 Mei 2013

BIGBANG atau CN BLUE..?


Beberapa minggu yang lalu, seorang teman bertanya dengan sangat keheranan ketika melihat playlist Mp3 saya yang berisi lagu milik salah satu band terkenal Korea CN BLUE. Teman saya tersebut menanyakan, “kenapa sampai saya bisa menyukai CN BLUE dan tak lupa pula menanyakan apakah saya sudah berpaling dari BIGBANG (boyband Korea yang tengah naik daun)”. Dengan tersenyum, saya hanya menjawab “BIGBANG tetap no. 1 sedangkan CN BLUE setelahnya.” Mendengar jawaban saya, teman tersebut kembali bertanya, “Apa yang saya suka dari CN BLUE?” dan lagi, sambil tersenyum saya menjawab “Saya suka CN BLUE karena ada Yong Hwa dan Minhyuk. Yong Hwa keren dan Minhyuk sumpah imuttt. hehehe." Sontak saja, mendengar jawaban saya, teman-teman saya tertawa terbahak-bahak. “wah,,, ternyata seperti itu toh” katanya. Dari intonasi dan kalimatnya, bisa saya tebak kalau dia pasti menganggap  saya menyukai CN BLUE hanya karena tampangnya saja. Hehehe.

Sebenarnya, saya mulai mengenal CN BLUE setelah melihat MV salah satu hits pertama mereka yang berjudul I’am a Loner. Dari MV tersebut saya melihat vokalis utamanya yaitu Jung Yong Hwa dan Drumernya yaitu Kang Min Hyuk. Jujur saja, saya sedikit agak kaget melihat MV tersebut. Saya sudah lama mengenal Jung Yong Hwa di salah satu Variety paling popular Korea yaitu Running Man, namun tidak pernah mengetahui kalau ternyata Yong Hwa merupakan seorang vokalis. Yong Hwa sangat sering menjadi guest dalam acara Running Man (RM). Saat bermain di Running Man, Yong Hwa adalah salah satu guest yang cerdik dan satu-satunya guest yang mampu mencabut name tag Kim Jong Kook (member Running Man Paling tangguh). Saat  menjadi guest RM, Yong Hwa terkadang menjadi ace bagi tim Yoo Jae Suk (member RM yang selalu melawan Jong Kook). Yong Hwa juga merupakan orang yang mampu menyesuaikan diri dengan variety. Banyak artis Korea terkenal, yang susah untuk menyesuaikan diri dengan variety show. Pun termasuk didalamnya yaitu sebagian personil dari BIGBANG minus Kang Daesung. 

Saya semakin mengenal Yong Hwa, ketika dia memerankan tokoh Lee Sin dalam sebuah drama berjudul Hearstring. Untuk Kang Min Hyuk sendiri, saya juga sudah lama mengenalnya dari sebuah lagu yang dia nyanyikan yang berjudul Star Heartstring (OST. Heartstring), dan baru sedikit lebih mengenalnya ketika dia menjadi pemeran tokoh Joon Hee, juga dalam drama Heartstring. Setelah menonton MV I’am a Loner, saya segera menanyakan ke kakak saya, yang sudah sedikit lama mengenal tentang Korea dibanding saya. waktu itu, saya menanyakan “apakah Yong Hwa dan Min Hyuk itu personil CN BLUE? Dan apakah band yang ada dalam drama Hearstring itu CN BLUE?” Kakak saya menjawab “Yappy. Min Hyuk dan Yong Hwa itu personil CN BLUE. Dan hanya mereka berdua yang bermain dalam drama Heartstring.” Setelah mendengar penjelasan itu, saya mulai mencari di Youtube lagu yang dimiliki CN BLUE. Saat itu, MV pertama yang muncul yaitu “LOVE”. Saya pun segera memutarnya. Dan, disinilah saya mulai jatuh cinta dengan CN BLUE. Lagu ini ringan dan sedikit lucu. Dari 2 lagu CN BLUE (Love dan I’am a loner) yang saya dengarkan, saya sudah mengenal kekhasan dari Band tersebut. Dan setelah beberapa kali mencari dan mendengarkan lagu lain, apa yang saya pikirkan benar. Lagu CN BLUE termasuk easy learning. Jika dibandingkan dengan BIGBANG, lagu CN BLUE sedikit lebih mudah untuk saya nyanyikan. Hehehe.

Jika membandingkan personil dari BIGBANG dan CN BLUE, jujur saja saya harus berpaling dari BIGBANG. Personil CN BLUE lebih memiliki karakter kuat dibanding dengan BIGBANG. Formasi CN BLUE sangat pas. Yong Hwa (Leader dan main vocal) sangat keren, Jong Hyun (gitaris dan second vocal) tergolong cakep, Jongshin (Bassist) terbilang cool dan Minhyuk (Drumer) adalah imuttt.. Hehehe. Di CN BLUE, tidak ada yang menonjol saat mereka konser. Semua pada posisi masing-masing. Dan yang paling penting, Yong Hwa sebagai leader dan pencipta lagu, mampu membagi tugas serta menempatkan suara masing-masing personilnya diposisi yang tepat. Hal ini yang masih kurang dalam tubuh BIGBANG. Saat konser, Taeyang (Second Leader) tampak selalu menonjolkan keahliannya sebagai dancer. Terlalu banyak improvisasi, sehingga terkadang saya merasa kalau panggung hanya milik dia sendiri. Pendapat saya ini juga sangat disetujui oleh salah seorang teman saya yang pernah melihat rekaman konser BIGBANG. Dia mengatakan kalau Taeyang terkadang terlalu berlebihan pada saat konser. Bahkan dia juga mengatakan, kalau pembagian suara dalam BIGBANG itu sedikit curang. Karena TOP dan Daesung yang memiliki vocal yang bagus, terkadang hanya diberi 2 part. Sedangkan Taeyang dan Seungri diberi beberapa part lebih. Hal ini juga sangat saya setujui. Jika dilihat dari semua lagu BIGBANG, part TOP dan Daesung terbilang sedikit dibanding dengan yang Lain. Padahal, karakter vocal merekalah yang sangat kuat.

Jujur saja, di BIGBANG saya hanya menyukai 1 orang yaitu Kang Daesung. Main vocal dari BIGBANG ini sudah saya kenal setahun lebih. Saya menyukai Daesung karena karakternya yang selalu happy. Dia adalah Happy Virus di BIGBANG. Meski tidak secerdas dan sekeren Yong Hwa, Daesung lebih terkenal dalam dunia Variety Show. Pernah menjadi member tetap sebuah Variety show terbaik korea bersama Yoo Jae Suk membuat Daesung sangat dikenal di dunia Variety. Ditambah dengan ketenaran BIGBANG, Daesung melejit jauh. Memang jika dibandingkan dengan CN BLUE, BIGBANG dibawah naungan YG Production merupakan boyband terkenal. BIGBANG juga merupakan boyband Korea yang mampu memenangkan salah satu penghargaan di EMA (Europe Music Award) mewakili Asia. Musik BIGBANG lebih berwarna, dan entah kenapa saya selalu saja punya rasa kangen dengan BIGBANG setiap saat. Rasa yang tidak dimiliki oleh boy or girl band lain, juga termasuk CN BLUE saat ini. Dan hal itulah yang menjadi pembeda antar keduanya. Pembeda posisi mereka. BIGBANG First, CN BLUE second. And who’s next? Molla ( I don’t know). ^:^


*Atas BIGBANG. Bawah CN BLUE


#CeritaBulanMei
Tulisan ini termasuk dalam "permainan menulis" dengan salah satu teman kerreenn, yang sama-sama ingin belajar menulis. :)