Senin, 03 Oktober 2016

hari minggu yang panjang

Saya terbangun di pagi hari minggu yang cerah dengan kondisi yang sangat malas gerak. Dinginnya AC di kamar membuat saya enggan membuka mata dan bergerak untuk beraktifitas. Akhirnya, pukul 07.30 saya benar-benar sudah terbangun, mulai beraktifitas dan bermain dengan keponakan saya. Menengok handphone yang tergeletak di kamar sebelah, beberapa whats app dari teman sekantor berdatangan yang mengatakan kalau mereka sudah di Makassar. Rencana untuk menonton konser Urban GiGs yang mendatangkan Payung Teduh terealisasi. Teman-teman (terutama Dadan) begitu bersemangat untuk menonton band indie favorit yang kata orang lagunya meneduhkan.

Pukul 13.30 setelah menyerahkan motor kepada Ba’ba, saya akhirnya bertemu dengan Mas Farid dan Dadan (teman sekantor) di tempat janjian kami, McD Alauddin. Saya menengok jam tangan sebentar, janjian dengan teman seangkatan pln yang lama tak bertemu sudah lewat jauh. Beruntung, meski begitu teman-teman saya tetap mau bertemu dan saling memecah rindu. Saya akhirnya meminta mas Farid untuk menurunkan saya duluan di MP, untuk menepati janji saya bertemu dengan dua teman seangkatan. Alhamdulillah, mas Farid dan Dadan pengertian dan membolehkan saya untuk duluan sedangkan mereka berangkat menjemput teman lainnya yang juga akan ikut menonton Payung Teduh dan ikut rombongan menonton film Deep Water Horizon bersama yang lainnya. Setelah sempat berputar mall, akhirnya saya bertemu dengan kak Ayu dan kak Muhe, teman seangkatan PLN yang sudah lama tak bertemu. Terakhir kali bertemu bertiga (juga dengan yang lainnya), dua tahun yang lalu, sehari sebelum penempatan kami. Bingung mau nongkrong dimana, kami akhirnya memilih untuk duduk dan menikmati sajian minum dan makanan di Excelso. Excelso menjadi pilihan dengan sejumlah pertimbangan-pertimbangan promo yang bisa didapatkan dengan menggunakan kartu debit mandiri. Pertimbangan dari Kak Muhe yang sumpah bikin ngakak kami bertiga. Kelucuan kak Muhe ternyata tidak pernah berubah. Selalu saja tidak bisa diduga. Setelah duduk sebentar, kamipun memesan makanan dan minuman. Disini, lagi-lagi kak Muhe membuat kami tertawa. Karena promo yang ditawarkan harus minimal transaksi 250.000 rupiah, maka kak Muhe mengambil inisiatif untuk memesan cemilan yang lengkap dengan pertimbangan harga bisa mencapai minimal transaksi yang disyaratkan. Lalu, Ia kembali memesan minuman. Pilihannya jatuh ke Kopi Luwak dengan harga 110.000 rupiah. Satu hal yang membuat kami tertawa karena setelah memesan kopi tersebut, kak Muhe tidak berhenti mengatakan kalau kopi ini adalah kopi mahal pertama yang Ia pesan. Mencoba minumannya, Ia tak henti-hentinya mengatakan kalau kopinya special dan memang kopi luwaknya  berbeda dengan kopi lainnya yang dijual dipasaran, “enak karena mahal” katanya.  Kami mengobrolkan banyak hal, mulai dari kerjaan, kuliahku, cinta, dan topik paling hot adalah MENIKAH. Diantara kami memang belum ada seorangpun yang menikah, maka mengejek satu sama lain dengan menyuruh menikah adalah candaan wajib. Diakhir perjumpaan kami yang hanya tiga jam, kak Muhe kembali membuat kami tertawa lepas dengan tingkahnya. Ia yang berniat ingin membayar makanan dan minuman kami, mengambil tempat yang salah untuk mengantri. Ia malah mengantri di kasir The Coffee Bean, dan baru menyadarinya setelah kasir Coffee Bean menunjukkannya dimana letak kasir Excelso. *gubraak*. Pertemuan yang sebentar kami dengan dominasi sejumlah kekocakan sang calon MB Keuangan.
Bersama Kak Muhe dan Kak Ayu
Setelah bersama kak Muhe dan Kak Ayu,  saya akhirnya bergabung di J.Co dengan teman sekantor yang telah selesai menonton film Deep Water Horizon. Kembali nongkrong membahas apapun soal kerjaan, cewek, sampai kekonyolan-kekonyolan masing-masing. Pukul 19.00 kami akhirnya bergeser dari Mall Panakkukang untuk segera merapat di Benteng Rotterdam, tempat dilaksanakannya konser Urban GiGs. Sempat berpikir kalau kami sudah terlambat, ternyata kedatangan kami masih bisa ditolerir karena Payung Teduh sama sekali belum tampil. Payung Teduh di plot untuk mengisi part akhir dari acara tersebut. Registrasi sebentar, kamipun perlahan merengsek masuk ke titik terdekat panggung. Beruntung Dedy dan Firman mendapatkan spot duduk untuk kami, yang masih bisa dibilang dekat dengan panggung. Tempat kami meski tidak pas di tengah, tapi kami masih mampu melihat rambut pendek Om Is dan juga tampannya sang bassist arab Payung Teduh. Duduk sejam, Payung Teduh belum juga tampil. Beberapa band lokal turut andil memeriahkan acara ini. Band-band indie lokal cukup menghibur, tapi tetap saja yang paling ditunggu semua orang adalah penampilan om Is dkk. Pukul 20.30, yang ditunggu akhirnya naik panggung. Tepuk tangan membahana seketika. Membuka penampilannya dengan lagu Menuju Senja, om Is sukses membuat semua orang tenggelam dengan syair-syairnya. Riuh ramai suara penonton turut mengalun bersama suara om Is. Meski saya hanya Fans karbitan Payung Teduh, tapi lantunan syair payung teduh memang mampu meneduhkan siapa saja yang mendengarnya. Penampilan om Is yang kece badai ditutup dengan lagu Angin Pujaan Hujan yang sumpah bikin baperan abis. Saya yang baru pertama kalinya menonton konser (gratisan pula) cukup menikmati sensasi keteduhan itu. Hanya asap rokok dari para smookers yang mengganggu hikmatnya alunan musik Payung Teduh. Satu hal yang saya sesali adalah kenapa saya harus menonton konser Payung Teduh tanpa kekasih. Lagu Berdua Saja dan Untuk Perempuan yang sedang Di Pelukan sukses membuat saya kangen berat dengannya yang sedang berada jauh di Utara Sulawesi. Jadinya baperan abis deh. Huhuhuhu
Di tengah konser UrbanGiGs #generationG

Hari minggu saya yang panjang dan berkesan ditutup sudah dengan senyuman penuh kesyukuran. Satu lagi keinginan tercapai di 2016 ini. –menonton konser terbuka adalah salah satu impian saya sejak dulu, yang baru bisa terwujud karena lelaki yang bersamaku sekarang tidak sebawel yang dulu-dulu.hahaha”
  
Minggu, 02 Oktober 2016

Bersama sahabat