Senin, 01 Juli 2013

Dalam Bingkai Cermin

Kita saling menatap. Perlahan kutarik keatas kedua pipiku, mengembangkan senyum lebar kearahmu. Kaupun tersenyum sama lebarnya. Aku menatap matamu dalam, berusaha mencari diriku. Masih dengan senyuman itu, kucoba merangkai Tanya untukmu dalam hati. “Siapa aku dimatamu? Bagaimana aku menurutmu? Apakah aku masih sama dengan yang dulu?” Tanyaku dalam hati. Tak sepatah katapun keluar dari mulut kita. Kubiarkan hati kita yang saling menjawab. “Kamu banyak berubah. Banyak hal yang harus kamu tinggalkan untuk menjadi lebih baik” jawabmu lewat tatapan itu. Aku mendengarmu perlahan menasehatiku. Menasehatiku dalam diam, dalam sebuah rangkai penuh kebijaksanaan. Aku diam terpaku, dan mencermati setiap nasehatmu. “Kamu harus berubah. Tinggalkan semua hal yang bisa membuatmu malas. Berhentilah menunda.!”
 “Berhentilah untuk berambisi bisa melakukannya sendiri dalam satu waktu. Kamu tetaplah manusia biasa, yang sesekali membutuhkan bantuan. Ingat itu..!”
Nasehatmu lembut, namun menusuk. Yah, menusuk tapi hal itulah yang saat ini kubutuhkan. Aku butuh ditampar, untuk menyadarkanku bahwa ini adalah dunia kehidupan. Dunia dimana kenyataan berbanding terbalik dengan harapan.
“Bangunlah lagi. Perlahan, lakukan semua yang ingin kamu lakukan sekarang. Mulailah dengan merangkak, hingga kamu mampu berdiri dan berlari. Seperti dulu, saat kamu masih di umur 19 tahunmu. Disaat semua mimpi masih menggantung didepan matamu. Saat sakit hatimu membakar jiwa sehingga membuatmu berlari mengejar semuanya. Saat dimana kamu masih belum mengenal kata jenuh.”
“Kumohon bangunlah. Berdirilah jika saat ini kamu tak mampu untuk berlari. Aku benci melihatmu terpuruk dalam lembah kemalasan. Kamu bukanlah dirimu saat ini.”
“Come on Laenk.. Ruuuunnnnnn..!!!!” teriakmu. Suaramu keras sekali. Kata-katamu menembus tulang dan kulitku, bercampur dengan darahku. Menjalar ke seluruh bagian tubuhku. Aku merasa baru saja terkena sebuah petir. Mengagetkan sekaligus menyadarkanku.

Kutatap sekali lagi matamu dengan tajam. Senyumku makin melebar. Kuucapkan ratusan terima kasih padamu dalam hati. Terima kasih untuk nasehatmu. Terima kasih untuk tamparanmu. Dan terima kasih masih setia menemaniku dalam keadaan apapun. Sekali lagi, terima kasih. Untukmu, diriku. Dalam bingkai cermin.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar