Rabu, 01 Januari 2014

Keputusan Sementara


Keputusan sementara akhirnya tercipta juga. Keputusan yang terlahir dari sebuah keterpaksaan keadaan. 

30 desember 2013 kemarin, sebuah kabar tidak mengenakkan kudapatkan. Pukul 21.00, setelah berbicara panjang lebar dengan Bapak Kos, terpilihlah sebuah kata bahwa saya harus pindah. Sebuah kabar yang sangat tidak mengenakkan dimalam itu. Sangat tidak mengenakan lagi karena sehari sebelumnya saya sudah menerima kata “acc” untuk memperpanjang waktu di Makassar dari orang tua saya. Dua orang teman yang pada saat itu tengah makan malam bersama saya, tampak sedikit kecewa akan hasil yang saya dapatkan. Janji memberikan kabar gembira ke mereka ternyata batal seiring dengan lahirnya kata pindah tadi. Sambil menunggu mie ayam kami datang, saya dan juga kedua teman dekat saya tersebut mencari tempat ntah itu sekedar menitipkan barang milik saya ataukah sebuah tempat kos-kosan baru untuk saya. Akhirnya, setelah mencari beberapa solusi, diputuskanlah barang saya hanya akan dititip sementara sampai saya mendapatkan tempat baru. Dititip dimana? Dititipkan ke salah seorang teman yang baik hati, kalem dan betul-betul ditakdirkan sebagai penolong saya sementara. Kenapa saya sampai mengatakan hal itu? Karena pada jam sebelumnya, saya tanpa angin tanpa badai meminta nomor hape beliau untuk saya save --- saya bukan seorang yang mau meminta nomor hape dan sayapun termasuk dalam kategori orang yang sangat malas untuk menyimpan nomor hape. Pikiran saya waktu itu hanya sebatas ingin mengirimkan sms minta maaf dimalam hari (saya banyak dosanya ke beliau.red) sebelum tidur, tapi ternyata Allah maunya yang lain. Allah menakdirkan saya mengirimkan sms permintaan tolong ke beliau. --untuk mengetahui bagaimana saya sebelum mengirim sms minta tolong, silahkan tanyakan pada dua orang yang makan mie ayam bersama saya malam itu—(blush). 


Setelah makan malam itu, untuk sementara hal itulah keputusannya. Memindahkan barang tanggal 2 Januari dan mencari tempat baru sampai tanggal 11 Januari. 

31 Desember 2013, saya melihat seluruh sudut kamar saya. Beberapa titik, dinding catnya sudah terkelupas. Hal itu tidak lain adalah saksi bisu bagaimana kejamnya tugas besar Ilmu Ukur Tanah semester satu saya. Mata saya bergerak sedikit, dan singgah sejenak pada tulisan Wall Of Dream. Saya membaca kembali beberapa target yang belum terpenuhi. Mata saya lama melihat tulisan Kuliah di Jawa. Pikiran saya mengajak saya berjalan-jalan ria. Memusingkan beberapa hal. Sampai tibalah saya dikata “Jadi bagaimana?”. Otak saya berpikir jauh kedepan. 2014 akan bagaimana dan saya akan dimana menjadi sebuah perbincangan hebat dalam otak saya. Lama saya berbingung-bingung ria sendirian. Sampai akhirnya saya mengingat kembali pesan Kak Ari Irawan beberapa waktu yang lalu. Beliau mengatakan ini ke saya : “Ratih, salat istikharah dululah. Pikir yang matang. Jangan sampai salah pilih keputusan. Tanya lagi hatinya. Tanya lagi passionnya dimana. Pokoknya, salat dululah. Biar jawabannya jelas”. Saya kemudian mengingat kejadian-kejadian beberapa hari ini. Keputusan-keputusan yang saya ambil adalah keputusan sementara. Saya belum melibatkan Allah. Keputusan yang saya ambilpun masih berdasarkan keinginan sementara saya. Pikiran saya kembali ke sms seorang teman pada malam harinya yang menyuruh saya untuk berpikir matang-matang akan keputusan yang nantinya saya ambil. Saya berpikir terus menerus. Bahkan diatas motor saat mengendara pulang ke rumah pun saya masih berpikir tentang hal ini. Hahahaha.
-        
             31 Desember, dirumah. – 
Saya masih setia memikirkan hal tersebut. Perpanjang atau tidak. Kalau diperpanjang sampai kapan? ITS buka 15 januari. Unibraw katanya Februari. Bukannya Maret mau coba ke Kampung Inggris? Hufft. Saya menarik nafas panjang. Sambil tiduran, saya terus berpikir segala kemungkinan yang terjadi. Pikiran saya akhirnya menemui jawaban (sementara). Dan saat ini, itulah yang terbaik. Saya memutuskan untuk mengangkut kembali ke rumah semua barang saya (kecuali lemari. lemari saya tetap dititip) dan saya akan mencari jawaban yang terbaik dengan jalan salat Istikharah selama saya dirumah sampai pada akhir Januari. Segala hal yang selama ini diperdebatkan hati dan pikiran saya akan terselesaikan di Bulan Januari 2014. Dan segala hal yang akan saya putuskan nantinya, semoga tidak lagi menjadi sebuah keputusan sementara dan berasal dari keinginan sementara pula. 

Setelah menemui jawaban sementara itu, saya kemudian berdiskusi dengan Ibu saya dan beliaupun menyetujuinya dengan tersirat.
Diakhir tahun masehi, disaat hujan turun begitu derasnya saya berharap tidak pernah menyesali semuanya nanti. :-) 


-Terimakasih untuk 2 orang kakak hebat yang mampu menenangkan saya disaat kepusingan melanda malam itu. Terima kasih juga karena telah berhasil membuat saya menurunkan gengsi dalam-dalam sementara. Semoga Allah mengijinkan saya mentraktir kalian makan selain mie ayam nanti. haahahaha-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar