Kamis, 16 Januari 2014

Memilih Keputusan

Bismillahirrahmanirrahim.
Sebuah keputusan akhirnya tercetus juga hari ini. Meski tentu saja masih disertai dengan gerimis yang membasahi pipi. Meski tidak bersama kata pasrah namun masih setia disertai dengan rasa sedikit “sakit hati”.

Memilih keputusan..





Pukul 18.00 menjelang maghrib.
sebuah sms masuk menghuni hape saya. Sebuah sms dari teman terdekat di kampus selama kuliah kemarin. Isinya mengatakan kalau besok (Jum’at, 17 Januari 2013) pendaftaran Lintas sarjana Unhas tertutup. Shock? Tentu saja. Terlebih lagi karena mengetahui info tersebut di kamis sore dan saat saya sedang jauh dari Makassar. Teman tersebut segera menyarankan saya untuk segera ke Makassar esok untuk mendaftar. “hmm.. Unhas.” Gumamku dalam hati. Bukan memandang remeh kampus tersebut. Sama sekali bukan. Tapi terlebih karena kenyataan yang harus saya terima jika memutuskan mendaftar di kampus tersebut. Kenyataan bahwa sks yang diterima hanya 50. Parahkan meeen?? --“Iyya parah..”--

Pukul 19.30 setelah makan malam.
Setelah berpikir (belum panjang dan belum matang), saya menceritakan ke kedua orang tua saya tentang pendaftaran Unhas yang akan tertutup besok. Ibu saya juga ikutan shock (Sudah 2 kali saya menyampaikan berita tentang deadline pendaftaran kampus-kampus) dan kalimat pertama yang keluar dari mulut Ibu adalah “Nda jadi ke Malang?”. Mendengarnya tentu saja mengiris hati. Sebuah mimpi yang dibangun dengan sebuah rasa dan bayangan indahnya menimba ilmu di tanah Jawa harus ditepiskan oleh pahitnya kenyataan. “Saya mengerti keadaan Bu...”. Yaaappp.. Saat ini saya sangat mengerti kenyataan yang tertera. Terlalu egois jika saya memaksakan diri berangkat ke Malang untuk menuntut ilmu. Saya tahu betul kenyataan sekarang sudah tidak sama lagi sewaktu saya membangun mimpi itu. Ba’ba pasti akan keteteran membiayai dua orang anak yang kuliah di Jawa (saat ini kakak perempuan saya sedang kuliah S2 di UGM dan baru jalan semester pertama). “Daftar saja, Laenk” kata Ba’ba menyarankan. Oke. Untuk pilihan Unhas Orang tua done. Tinggal hati saja yang belum done.

Pukul 20.00 lebih.
Setelah salat isya dan setelah bercerita panjang lebar pada Sang Pemilik Keputusan, saya mengajak seorang kakak (yang menurut saya berpengalaman) untuk chat. Saya menceritakan semua gundah gulana hati saya dan juga dilema yang saat ini saya hadapi. Setelah panjang lebar bla.bla.bla, sang kakak kemudian menanyakan sejumlah kampus selain Unhas yang mungkin menerima lintas sarjana. Semua sudah saya sebutkan, dan hanya Unhas lah yang negeri. “oke.. Kalau menurutku, Ratih lebih baik tetap kuliah di Jawa. Kalo tidak bisa tahun ini coba di tahun depan. Sambil nunggu coba permantap Bahasa inggrisnya. Toefl dll juga.”tulisnya. Tentu saja saya kaget membaca pesan tersebut. Selama ini saya belum menemui seorang pun yang menyuruh saya bertahan pada mimpi saya. Yang ada hanya teman-teman atau kakak-kakak yang menyarankan saya sedikit mengubah haluan. “trus saya nganggur kak?” “Yaa itu konsekuensinya dik” tulisnya. “Ini frontal” pikirku. Sama sekali tak ada opsi menganggur dalam pikiran saya selama ini. Yang ada hanya opsi lanjut di Makassar atau lanjut di Jawa. Karena opsi lanjut dijawa sudah harus dihapus dulu sekarang, maka opsi berikutnya muncul yaitu Lanjut di negeri dengan 50 sks atau lanjut di Swasta dengan lebih dari 50 sks yang diterima.

Pukul 22.00 setelah chat dan setelah tenang.
Saya memutuskan untuk memilih lanjut kuliah. Kuliah dimana? Meski dengan sejumlah pikiran yang masih bisa bikin putar haluan, saya memilih untuk melanjutkan kuliah di swasta saja. Alasan pertimbangan adalah saat ini saya tetap di Makassar, sudah seharusnya saya kerja dan membiayai kuliah saya sendiri. Kenapa swasta? Karena kuliah swasta hanya di hari Jumat, sabtu dan Minggu dan lebih 50 sks yang mereka terima. Jika saya rajin kuliah, maka 1.5 tahun pasti sudah beres. Nilai plus jika kuliah swasta adalah saya bisa bekerja. Atau jika belum bertemu rejeki untuk bekerja maka saya bisa meningkatkan skill saya dengan ikut beberapa les-les yang berkaitan dengan keahlian yang saya inginkan.


Pukul 23.00 bersama dingin sehabis hujan.
Sebuah keputusan akhirnya tercetus (meskipun sedikit sakit).


“Saya yakin kamu tidak pasrah sama keadaan, kamu hanya percaya kalau jalan dari Allah ga pernah salah” --- sms seorang teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar