Minggu, 15 Desember 2013

Ini pesanku untukmu, Adikku..


Seperti biasa saat menemukan sebuah jaringan dan PC atau Laptop aku pasti akan segera membuka Twitter, Facebook, Tumblr atau G+ku. Sebuah keharusan dan bisa dikatakan sebuah kebutuhan buatku untuk mengakses akun sosial tersebut setiap harinya. Apalagi untuk Twitter dan Fb. Harus dibuka setiap saat untuk tidak ketinggalan berita tentang kerjaan dan komunitas sosial yang kuiikuti saat ini. Maklum saja, keadaan dimana kami jarang bertemu membuat media sosial sebagai penghubung utama antar kami untuk berkomunikasi selain melalui telpon dan sms. Hehehe.

Kali ini, aku tidak ingin membahas tentang akun sosialku. Tapi, terlebih kepada akun sosial adikku. Yaa sebagaimana biasanya saat membuka twitter atau Facebook selalu saja kusempatkan untuk men-stalk-ing akun saudara-saudaraku. Kami yang mulai jarang bertemu satu sama lain karena kesibukan, membuatku hanya mampu memantau keadaan Kakak serta adikku dari akun sosialnya. Akun yang berada pada urutan pertama untuk kucari tahu adalah kakak perempuanku Indah Iswary. Karena jarak kami yang sangat jauh saat ini, maka Ia menjadi urutan pertama. Sekedar memantau keadaannya. Dan tak lupa memberitahu Ibu jika menemukan hal-hal aneh terhadapnya (seperti saat Hapenya hilang sesaat).

Akun kedua tentu saja Adikku. Begitu membuka akunnya, aku sedikit terhenyak. Ava serta header twitternya membuatku sedikit terganggu. Avanya berisi foto Ia dan seorang laki-laki yang dari papan nama yang tertempel di Seragamnya Bernama : titik.titik.Nuralam. Dari header serta isi bio twitternya aku bisa memastikan nama panggilan laki-laki sebayanya itu Alam. Dan dari isi bio itupun aku memastikan kalau orang itu (mungkin) pacarnya.

Setelah beberapa kali scroll ke bawah banyak hal baru kudapatkan dari isi tweetnya. Baik itu tentang sekolah, persahabatannya dan juga hubungannya dengan laki-laki itu. Sedikit banyak, anak itu mampu membuatku geleng-geleng kepala. Dan, tentu saja ini cukup mengkhawatirkanku. 

Oleh karena itu, kusempatkan waktu untuk menuliskan ini. Karena (mungkin saja) dengan tulisan ini, hatinya sedikit tergugah untuk lebih berhati-hati di akun sosialnya. 


Dik, Kakakmu ini tahu betul kalau saat ini kamu sedang melalui masa yang paling menyenangkan. Tapi, perlu kau ketahui dik, Masa yang menyenangkan itu tak perlulah dilalui dengan yang namanya Pacaran. Meski kita bukanlah berlatarkan keluarga agamis, tapi pacaran bukanlah sebuah hal yang boleh dilakukan. Kamu boleh berteman dengan siapapun. Dengan laki-laki manapun. Tapi, ingatlah dik. Pacaran itu bukan jalan yang baik untuk dilalui. Bahkan sama sekali tak ada baiknya. Jikalaupun kamu merasa suka terhadap lawan jenismu, maka itu sebuah kewajaran. Tapi, jauh lebih baik jika rasa itu disimpan rapi sendiri. Jika kamu berkata, "aku mencintainya". Maka sudah bisa kupastikan, bahwa itu bullshit belaka..! Anak diusiamu belum mampu dan masih belum tahu soal cinta-cintaan. Cinta itu rumit dik. Usiamu belum mampu menjawab itu semua. Kakakmu inipun masih saja belum mampu mengatakan cinta pada seseorang. Cinta itu rumit, Dik. Dan Jika kamu betul-betul ingin tahu apa arti dari Cinta, maka banyak-banyaklah bersujud di hadapan-Nya. Karena hanya Ia, yang memiliki cinta paling hakiki.

Jika kamu mengatakan bahwa aku ini kolot, kampungan, dan tidak mengikuti jaman. Itu wajar. 
 Tapi ijinkan aku bercerita sedikit padamu, Dik. Aku punya banyak teman. Aku mengenal orang-orang hebat. Pun, aku banyak mengenal teman diusia sebayamu. Tapi tahukah kamu, mereka semua itu memilih untuk tidak pacaran.. Mereka memilih untuk berlomba-lomba menjauhi maksiat itu. Mereka ramai sibuk mendekatkan diri dengan-Nya. Mereka berprestasi jauh diatasmu. Dan hebatnya mereka sama sekali tidak Berpacaran. Maka ijinkan aku bertanya, Jaman manakah yang saat ini kamu temui?? Jaman yang kutemui sekarang di kota, yaaaa seperti yang kuceritakan tadi. Jaman yang mulai menghindari pacaran dan maksiat. 

Aku mungkin bukan kakak yang baik bagimu. Tapi, ingatlah aku ini masih kakakmu. Masih sebuah keharusan bagiku untuk meluruskan jalanmu. Masih sebuah kewajiban bagiku melarangmu. Aku ini hanya ingin melihatmu sukses dan bahagia tanpa melalui jalan yang salah. Adikku, belum terlambat untuk mengakhiri semuanya. Kamu hanya tinggal berusaha untuk menjauhinya dan jangan pernah mencoba kembali. Karena Hidup ini hanya sementara. Yuukk, kita Jadikan surga sebagai Tujuan. Menjadikan diri ini sebagai alasan kedua orang tua memperoleh surga.


Jika kau berkenan, ulangi kembali membaca buku "Yuuk, Putusin Aja" karya Ustadz Felix Siauw... oia, (pun) jika kamu berkenan, maka gantilah ava dan header twittermu. Ingat, itu akun sosial. Kakak-kakak lelakimu (mungkin) saat ini belum menegur. Tapi, cepat atau lambat pasti kamu akan ditegur oleh Kakak kita. Hehehehe. 

-  Semoga Allah menghindarkanmu, aku dan keluarga kita dari sejumlah fitnah dan musibah.. Amin. Allahumma Amin.. -

Salamku, 
Kakak yang berusaha menjadi contoh yang baik bagimu.



Foto bersama Kakak Tertua (Laki-laki) dan Istrinya, Kakak Perempuan (Paling kanan), adik sepupu (Baju biru) serta Adikku (paling belakang, baju abu-abu) di Bantimurung, Maros.

2 komentar:

  1. terharu baca tulisan ini :') bukti kasih syg saudara yg tanpa batas :')

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah menyempatkan membaca kaka.. :))

    BalasHapus