Senin, 28 Oktober 2013

Kemana saya setelah ini?

Pertanyaan “Kemana saya setelah ini?” kembali mencuat ke permukaan. Pernyataan Ba’ba tadi pagi yang secara halus sudah meminta saya untuk melanjutkan pendidikan ke tanah Jawa cukup keras menghantam perisai saya. Alasan – alasan halus untuk tetap berada disini selama ini, mungkin sudah tidak lagi masuk akal bagi beliau. Disatu sisi, ntah kenapa aku mulai mempertanyakan kepada diriku sendiri tentang situasi yang mungkin akan kutemui jika mengambil keputusan itu.

“Kenapa harus seperti ini?”. “Tidak bisakah aku tetap tinggal saja disini?”. “Disini mau ngapain? Mau lanjut disini yang ada Cuma swasta dan pastinya mahal. Yang negeri tidak sejalan dengan yang sekarang”. “Haruskah lanjut? Atau pilih jalan lain?”. “Kerja atau lanjut dulu?”. “Kalau ke Jawa, Sanggupkah?” tanyaku pada diri sendiri. Sejumlah mimpi yang selama ini menguatkanku untuk melangkah ke tanah Jawa perlahan tergerus oleh pertanyaan yang memintaku untuk tinggal. Dikepalaku berkecamuk banyak hal. Satu sisi, keahlian yang kuinginkan cuma ada di Universitas – Universitas di Jawa. Sementara sisi lain, pertanyaan mampukah aku untuk meninggalkan semua yang ada disini.
“Haruskah kutinggalkan teman-temanku, keluargaku, Barny, dan juga hobiku?”. “Kalau di Jawa kira-kira bisa dapat yang kayak disini ga yah?”. “2 tahun itu lama. Kalau tiba-tiba kangen mereka gimana?”. Pertanyaan demi pertanyaan terus dan terus menggangguku. Aku berada diantara 2 pilihan yang semuanya menjanjikan kesenangan. Jawa adalah mimpiku dan Makassar adalah keluargaku.
Yang mana yang harus kupilih? Sementara waktu terus berjalan dan bulan Februari akan menyapa. Alasan tak logis hanya untuk menunda tak akan mungkin lagi kuberikan pada Ba’ba.

Ah, sudahlah. Sungguh hidup memang penuh dengan persoalan pilihan. Sekali anda memilih, maka anda harus menanggung resikonya..


“Life is about the choice. When you take the choice. You should get the risk” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar