Rabu, 03 Januari 2018

Disruption


Judul Buku : DISRUPTION
Penulis       : Prof. Rhenald Kasali 
Penerbit     : PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA 
Tahun terbit : 2017 
Tebal Buku : 479 halaman

Tulisan pertama di tahun 2018, saya awali dengan menepati janji ke Amma dengan mencoba menulis ulasan sebuah buku yang telah khatam saya baca. Disruption (479 halaman) karya Prof. Rhenald Kasali. Seorang ekonom Indonesia penggagas Rumah Perubahan. 

Btw, sebelum melangkah terlalu jauh, jika penulisan ulasan ini kurang menarik dan teman-teman gregetan untuk komentar maka dengan senang hati saya akan menerimanya baik melalui kolom komentar di bawah, ataukah secara personal melalui email, chat whatsapp atau media lainnya. See you there!

Baik. Mari kita lanjutkan biar teman-teman tidak penasaran!
Dalam buku ini, Prof. Rhenald mengajak pembaca untuk lebih mengenal disruption dan bagaimana polanya.
Bab-bab awal buku ini menjelaskan tentang disruption dan apa saja yang telah mendisrupsi serta siapa saja yang terkena dampaknya. Disruption sendiri sepertinya menjalin hubungan sangat dekat dengan generasi millennials. Membaca bab-bab ini, saya seolah tertampar, kemana saja saya selama ini dan mengapa saya tidak sadar selama ini.

Hmm..
Btw, Sebenarnya apa sih Disruption itu?
Prof. Rhenald menjelaskan bahwa disruption adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Di era yang serba teknologi seperti sekarang ini, kehidupan kita sudah sangat dekat dengan pola-pola disruption. Usaha-usaha startup dalam kurun beberapa tahun terakhir banyak bermunculan. Siapa yang tak mengenal Alibaba, AirBnB, Kitabisa.com, traveloka, atau (yang paling sering saya gunakan) GO-Jek atau Grab. Adakah yang menyadari kalau mereka adalah salah satu pola disruption? Sadarkah kalau inovasi yang mereka kembangkan telah membawa kita meninggalkan cara-cara lama?
Mari kita tengok, Nasib Para Operator Taksi (hal. 71, Nasib yang Berbeda).

“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends” – Marthin Luther King, Jr.

Bila nasib baik telah dilewati oleh para operator telekomunikasi selama menghadapi disruption, hal berbeda justru tengah dihadapi oleh para operator taksi di seluruh dunia. Anda mungkin bisa mengendus apa yang tengah terjadi. Sekalipun Anda sangat cinta pada tanah air, setujukah Anda atas pelarangan operasi taksi online?
(Kalau saya sih tidak! Tarifnya masih lebih murah. Hahaha)

Akibat serangan disruption, laba bersih dua perusahaan taksi terbesar di Indonesia turun drastis per September 2016. Pada Juni 2016, Tech Crunch melaporkan kajiannya tentang valuasi perusahaan-perusahaan transportasi tersebut dan menyebutkan bahwa nilai valuasi GO-Jek sebesar 1,3 miliar dollar AS (17triliun rupiah) dan Grab sebesar 1,6 miliar dollar AS (20 triliun rupiah). Sementara itu, Blue Bird yang memiliki sekitar 27 ribu taksi regular, dan ribuan taksi eksekutif serta limosin hanya dinilai 9,8 triliun rupiah. Padahal kita tahu bahwa GO-Jek sama sekali tak mempunyai armada, tetapi bermitra dengan 200 ribu pengemudi pemilik kendaraan di kota-kota besar. (hal. 61, Nasib yang Berbeda)


Dalam buku ini, panjang lebar Prof. Rhenald menjelaskan tentang apa saja yang telah mendisrupsi hampir semua lini kehidupan kita. Saya yang bekerja di salah satu perusahaan BUMN tertohok dari banyaknya contoh perusahaan-perusahaan yang dulunya berjaya lantas hari ini kita sebatas mengenangnya saja. Nokia dan Kodak contohnya. Kisah dua perusahaan raksasa di eranya tersebut membuat saya berpikir, akankah perusahaan tempat saya bekerja masih berjaya dalam sepuluh tahun ke depan? Seperti kata Dirut saya dalam sebuah forum bisnis yang membahas masa depan perusahaan, “Sampai kapan PLN ada?”

Beberapa rekan saya (sebut saja generasi incumbent) masih bersantai dan bahkan masih bisa meyakini bahwa perusahaan ini masih akan bertahan lama. Saya pribadi masih menjadi penerka, terlebih banyaknya bermunculan pesaing-pesaing. Atau yang lebih mencenangkan karena beberapa “rekan” BUMN sudah mulai “say hello” dalam bisnis kelistrikan ~saya belum punya detailnya, kita bahas nanti ketika datanya sudah lengkap. :P~. Tapi, apa yang harus menjadi perhatian? Bukan tentang pesaingnya, tapi tentang bagaimana semua orang “aware” terhadap perubahan yang bergerak begitu cepat. Tentang bagaimana para top management melihat akan diarahkan kemana “kapal” ini. Sudah seharusnya seorang pemimpin tidak terperangkap pada masa lalu. Sebab era disrupsi ini mengajak kita untuk selalu  mau MELIHAT – BERGERAK – MENYELESAIKAN dengan pikiran yang realtime.   
“A good leader doesn’t get stuck behind a desk”—Richard Branson.

Coba lihat, Perubahan Business Model (hal. 315 – 319, Distruptive Mindset)
Beberapa tahun silam, saya pernah meneruskan pertanyaan para pimpinan negara kita kepada pimpinan BUMN di China tentang cepatnya pembangunan jalan tol di negeri itu. Harap maklum, selama 35 tahun Jasa Marga berdiri, hanya 850 kilometer jalan tol yang bisa kita bangun, sementara di China dalam 15 tahun bisa membangun puluhan ribu kilometer. Jawabannya sederhana sekali. Pertama, model pembangunan infrastruktur di China diserahkan kepada BUMN sehingga dapat menjadi asset yang tumbuh. Dan kedua, BUMN China melakukan value creation yang utuh, bukan sekadar membangun jalan tol. Termasuk di dalamnya menjaga kepentingan publik yang luas, yaitu lingkungan, rakyat jelata, petani, dan pemilik tanah. Ini berbeda sekali dengan pembangunan jalan tol di sini.
--
Sekarang kita jadi mengerti mengapa rate of return BUMN kita banyak yang kurnag menarik, padahal mereka berusaha dalam bidang yang sangat menguntungkan dan pasarnya captive. Kini ketika cara pandangnya berubah, giliran banyak dari kita yang tidak siap dan mati-matian mengkritik. Sementara itu, kalau BUMN kita kalah dengan Temasek (BUMN Singapura) atau Khazanah (Malaysia), kita juga ikut mengejek mereka. Padahal keuntungan BUMN dapat menjadi kontributor penting bagi APBN. Ia juga bisa menjadi akselerator pembangunan yang bekerja sama dengan mitra-mitra usaha swasta nasional.
--
Mereka khawatir BUMN kita tak mampu, bakal merugi, atau modalnya tidak cukup. Namun, itu belum cukup. Tuduhannya banyak sekali, yang intinya : sudahlah, jangan lakukan, Anda tak akan sanggup! Bahkan ada yang mengatakan kebanyakan BUMN kita mau karena dipaksa menterinya.
Pendapat semacam ini jelas naif dan merendahkan kemampuan BUMN kita yang sudah piawai dalam berbisnis. Bahwa mereka masih perlu belajar, ya itu sudah pasti. Namun, sudah saatnya kita satukan kekuatan, percayai bangsa sendiri, dan sama-sama menghadapi kekuatan lobi asing yang modalnya tak terbatas untuk memecah belah masa depan bangsa ini.
Zaman sudah berubah, pengetahuan kita pun jauh lebih baik. Sayang kalau para pengamat kurang berani menggalinya. Konsep bisnis memang bukan hal yang mudah untuk dianalisis dalam satu-dua jam. Ilmu ini terus berkembang.


SBKR, 03 Januari 2018


Ratih M Johor


Tidak ada komentar:

Posting Komentar